"Gajah mati meninggalkan gadingnya"
"Manusia mati meninggalkan nama"
sering sekali kita mendengarkan jargon ini bukan, tapi apakah benar - benar pernah kita serap maknanya.
dalam hidup saya, saya tidak pernah memiliki ambisi yang kuat.
ketika kecil, dimana anak-anak lain sering merengek-rengek untuk dibelikan mainan atau semacamnya. saya hanya bergeming. sebagian karena saya tahu bahwa kondisi ekonomi orangtua tidak terlalu baik untuk membelikan saya mainan yang bagus.
ketika sekolah, saya hanya mengerjakan soal-soal ujian dengan harapan cukup untuk naik kelas atau melanjutkan ke tingkat sekolah selanjutnya. bukan untuk diri sendiri !! bukan!!! saya melakukan itu semua tidak lain tidak bukan untuk kepentingan orang tua saya. saya tidak ingin orang tua menanggung malu karena anaknya tidak naik kelas, atau tidak dapat masuk SMU...
lalu ketika kuliah, saya hanya sekedarnya mengikuti perkuliahan dan ujian, tidak pernah terbersit untuk memiliki nilai yang baik, atau ingin memiliki nilai yang lebih baik dari si A atau si B... sekali lagi saya hanya pergi menurut jalur, jalur kesempatan yang ada.
hal ini membentuk pribadi saya menjadi manusia yang tidak pernah berjuang untuk keinginan saya. saya tidak pernah memaksakan kehendak saya. saya hanya memasuki pintu yang telah terbuka, tidak pernah berusaha membuka pintu yang tertutup.
lalu saya memasuki dunia kerja, saya sadar bahwa pribadi saya yang seperti ini tidak mungkin lagi diteruskan. terutama pada dunia yang menuntut saya untuk terus berkarya dan terus belajar. saya tidak bisa menunggu pintu terbuka, saya harus memulai mencari kunci untuk membuka pintu yang tertutup.
saya harus mulai mempunyai ambisi.
saya harus meninggalkan nama sebelum saya mati.